BeritaNasional

PR TBC Aisyiyah dan FISIP UMJ Gelar Seminar Penanggulangan TBC

Foto  Seminar dengan tema Peningkatan Peran Kementerian dan CSO dalam Upaya Penanggulangan TBC dan Dukungan Perlindungan Sosial untuk Pasien TBC.
Seminar dengan tema Peningkatan Peran Kementerian dan CSO dalam Upaya Penanggulangan TBC dan Dukungan Perlindungan Sosial untuk Pasien TBC. Foto:Net

Luwuk.today, Tangsel – Principal Recipient (Penerima Hibah Utama Global Fund) TBC Aisyiyah bekerjasama dengan Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta menyelenggarakan kegiatan Seminar dengan tema Peningkatan Peran Kementerian dan CSO dalam Upaya Penanggulangan TBC dan Dukungan Perlindungan Sosial untuk Pasien TBC.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional yang akan jatuh pada 12 November 2019.

Penanggulangan penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia sudah dilakukan Pemerintah melalui berbagai program. Sejak tahun 1995 Pemerintah Indonesia sudah melaksanakan strategi DOTS (Strategi Pengawasan Langsung Pengobatan Jangka Pendek). Namun demikian, saat ini penderita TBC masih banyak.

Indonesia merupakan negara dengan kasus TBC nomor 3 terbesar di dunia. Diperkirakan terdapat 842 ribu kasus baru setiap tahunnya, dengan estimasi yang ditemukan baru mencapai 68%, artinya masih terdapat 32% kasus di masyarakat yang berpotensi menularkan (https://tbindonesia.or.id/page/view/11/situasi-tbc-di-indonesia).

Pemerintah Indonesia melalui Kemenkes telah menetapkan target eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030. Sayangnya tantangan dalam penanggulangan TBC di Indonesia masih menghadang dan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat untuk mengatasinya. Karena itu, perlu peningkatan peran dari berbagai kementerian dan lembaga serta perlu peningkatan peran CSO dalam eliminasi TBC.

Sejatinya, penyakit TBC bukanlah masalah kesehatan semata. Ada banyak faktor lain yang memengaruhi penularan dan kesembuhan pasien TBC, terutama faktor sosial dan ekonomi. Saat ini, masih banyak masyarakat yang belum memahami TBC secara benar terutama proses penularan dan bahaya TBC jika tidak diobati sampai tuntas.

Masih banyak stigma negatif dan diskriminasi yang dialami penderita TBC. Masyarakat dari kelas sosial ekonomi bawah dan mereka yang tinggal di daerah pelosok dan terpencil seringkali mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses layanan kesehatan.

 Pasien dengan status TBC kebal obat membutuhkan lebih banyak support dan dukungan psikososial baik dari keluarga, pendidik sebaya dan pendukung pasien sehingga bisa menuntaskan pengobatan yang lebih lama.  

Karena itu, selain mendapatkan pengobatan gratis, banyak pasien TBC perlu mendapatkan dukungan perlindungan sosial dari pemerintah dan masyarakat. Pasien seringkali terkendala akses untuk mendapatkan pengobatan karena memerlukan biaya transport ke fasilitas kesehatan atau tidak memiliki support keluarga yang bisa mendukung mereka selama pengobatan.

Pasien TBC dari tingkat sosial ekonomi bawah seringkali mengabaikan pengobatan karena harus menjadi penopang hidup keluarga. Situasi ini seringkali membuat pasien harus memilih untuk tetap bekerja atau melanjutkan pengobatan.

Karena itulah, upaya-upaya kerjasama lintas sektor dan Lembaga/Kementerian Pemerintah terutama dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial dengan CSO (Organisasi Masyarakat Sipil) sangat diperlukan untuk mendukung percepatan penanggulangan TBC. Kebijakan di tingkat nasional terutama melalu Peraturan Presiden yang saat ini sedang digodok pemerintah sangat diperlukan untuk memayungi berbagai strategi dan langkah penanggulangan TBC.

Untuk itu, PR TBC Aisyiyah, sebagai program di bawah Pimpinan Pusat Aisyiyah yang memberi perhatian pada isu TBC menginisiasi untuk mendorong peningkatan peran Kementerian/ Lembaga pemerintah termasuk sektor akademisi dan masyarakat sipil untuk bersama-sama menanggulangi TBC. Diharapkan melalui peningkatan peran serta koordinasi dan kerjasama antara Kementerian dan Lembaga terutama Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial, upaya penanganan TBC di Indonesia semakin kuat sehingga target Pemerintah agar bebas TBC di 2030 dapat terpenuhi.

Kegiatan Seminar diadakan pada Kamis, 7 November 2019, pukul 09.00-13.00 di Aula FEB Lt. 4 Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jl. K.H. Ahmad Dahlan, Cirendeu, Tangerang Selatan dengan narasumber;  Dr. H. Saleh Partaonan Daulay, M.Ag., M.Hum., M.A (Anggota DPR RI Fraksi PAN), Dr. Diah Rini (Kemensos), dr. Imran Pambudi, MPHM,(Kepala Subdit Tuberkulosis, Kemenkes), Dr. Ma’mun Murod ( Dekan FISIP UMJ), Tuti Alawiyah, MSSW, PhD, (Program Manager PR TB Aisyiyah) Budi Hermawan (POP TB Indonesia) dan Nurul Eka Hidayati, M.Si, Pekerja Sosial sebagai moderator. (Rilis).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button