Nasional

Meneguhkan Misi Perdamaian di Hari Santri Nasional

Foto Ilustrasi: Hari Santri Nasional.
Ilustrasi: Hari Santri Nasional. Foto:Net

Luwuk.today, Jakarta – Menyambut peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang dilaksanakan setiap tanggal 22 Oktober, Wakil Ketua MPR RI 2014-2019 Hidayat Nur Wahid menulis satu artikel di harian Republika, Senin (21/10/2019). Ulama yang politisi alumni Pesantren Modern Gontor ini mengulas peran santri dalam perdamaian dunia sebagaimana tema peringatan HSN tahun ini, “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”.

Tema ini sangat penting dan relevan, mengingat saat ini kita masih menyaksikan krisis kemanusiaan akibat perang  di berbagai belahan bumi dan konflik komunal di dalam negeri. Tentu saja peran santri yang paling dinanti adalah merawat perdamaian dalam negeri yang terkoyak oleh konflik horizontal antar sesama anak bangsa.

“Tentu saja kita perlu tawadhu dan introspeksi, peran santri dalam negeri lebih diprioritaskan karena Indonesia juga masih menghadapi tantangan dalam berbagai bidang. Salah satu tantangan  berat saat ini adalah merawat integrasi agar tak tereduksi sukuisme atau rasisme”.




Hidayat menyoroti berbagai konflik komunal dalam negeri seperti Papua, Papua Barat, khususnya tragedi kemanusiaan di Wamena, Sorong, Manokwari, dan Jayapura sertan konflik antar warga pendatang dan penduduk asli di daerah calon ibu kota, kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Menurutnya berbagai peristiwa di atas merupakan alarm bahwa dibutuhkan kesungguhan untuk menata kembali hubugan antarsuku, agama, dan golongan. Ia menyebutkan sebagai “pekerjaan rumah yang harus dibersekan”.

Santri

Peran santri dalam perdamain kata HNW tentu bukan mengenhtikan kekerasan fisik, karena hal itu merupakan tugas kepolisian dan aparat kemanan. Peran santri yang paling strategis adalah membangun kesadaran tentang pentingnya merawat perdamaian bagi sebuah bangsa yang majemuk seperti Indonesia. Sebab santri telah terdidik hidup dalam suasana majemuk.

“Pondok pesantren adalah miniatur Indonesia sebab santri dari seluruh pelosok nusantara berkumpul untuk menuntut ilmu”. Sehingga dapat dikatakan bahwa pesantren merupakan miniatur masyarakat Indonesia yang majemuk dan plural.

Menurut wakil ketua Badan wakaf Pondok Pesantren Modern Gontor ini santri dapat berperan dalam menanamkan dan menyebarluaskan nilai universal Islam yang sejalan dengan nilai kemanusiaan dan mewujudkan perdamaian dunia. “Ada tiga sikap nilai dasar yang dapat dipromosikan”, yaitu; pertama, sikap moderasi Islam; kedua, tasamuh; dan ketiga, al-I’tilaf. 

Nilai  pertama adalah sikap moderasi Islam. Santri menurut mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera ini merupakan duta Islam yang harus memiliki konsep berpikir dan bertindak moderat. Hal ini penting karena moderasi (wasathiyah) merupakan nilai dasar dari ajaran Islam. Islam menolak berbagai sikap dan tindakan ektsremisme, baik ektermis liberal maupun ekstermis radikal. Dan santri seharusnya merupakan sokoguru  dalam pengarusutamaan moderasi serta membendung ekstrimisme radikal dan liberal.

Kedua, Nilai dan sikap yang patut diperjuangkan oleh santri untuk mewujudkan perdamaian dunia adalah tasamuh (toleran).Yakni terbuka dan berlapang dada menerima dan menyikapi perbedaan. Kita kata Ustadz Hidayat perlu mengembangkan nasionalisme  yang berlandasakan kemanusiaan, dan tidak terperangkap chauvinisme (cinta tanah air yang berlebihan).

Oleh karena itu Doktor Aqidah Univeristas Islam Madinah (UIM) Saudi Arabia ini menolak sikap nyinyir terhadap gerakan dakwah Islam yang dianggap transnasional. Ia memandang bahwa, “Nilai Islam sejak zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditjukan bagi seluruh umat manusia”. Sehingga menurutnya, “tidak perlu alergi dengan dakwah yang bersifat transnasional karena itu justru menandai watak kosmopolitian Islam yang sering diungkap Bung Karno dan bung Hatta”.

Santri belajar bersama (saling simak hafalanAl-Qur’an)

Ketiga, Al-I’tilaf yang berarti harmoni atau kerasian, yakni keselarasan antara keyakinan , menghormati, menyayangi  serta menyinergikanpebedaan yang ada secara ikhlas dan alamiah. “Dengan harmoni akan tercipta tatanan kehidupan yang indah dan teratur, ada sistem dan aturan yang menjadi kesepakatan bersama, dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa tatanan internasional, bahkan alam semesta”.

Misi perdamaian kaum santri yang berjumlah 3.642.738 yang tersebar di 27.218 pesantren harus dimulai dengan pembersiahan hati dan penjernihan pikiran. Diplomasi global perlu dikembangkan dengan hati tulus dan pikiran terbuka. Selamat hari santri Nasinal. (HNW/Udin Muna)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close