BeritaNasional

Masukan dan Harapan Praktisi Pendidikan Untuk Mendikbud Nadiem Makarim

Budi Handrianto (kanan) dan Gus Hamid (kiri)

Luwuk.today -, Penunjukan mantan CEO Gojek Nadiem Makarim (NM) sebagai Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Kabinet Kerja II menimbulkan tanggapan beragam dari berbagai kalangan. Yang paling ramai menanggapi hal ini adalah para pendidik dan insan pendidikan. Alasannya karena Nadiem tidak memiliki riwayat sebagai pendidik dan atau tidak jelas kepakarannya dalam bidang pendidikan.

Namun pakar pendidikan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor memiliki tanggapan yang lebih objektif. Meskipun sempat kaget dengan penunjukan NM sebagai Mendikbud, Budi meminta kepada public untuk terburu-buru mengkrtik pak menteri. Menurutnya tidak fair jika masyarakat langsung menilai negative dan men-judge, karena pak Nadiem belum bekerja.

Yang terpenting menurut pakar Islamisasi sains ini adalah memberikan masukan kepada Mendikbud yang baru tentang problem mendasar pendidikan bangsa kita. Yang paling mendasar adalah bagaimana mengembalikan landasan dasar pendidikan Indonesia kepada khitah dan tujuan pendidikan nasional yang digariskan oleh Pancasila dan, UUD 1945, dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.




***

Sebagai pendidik dan insan pendidikan, saya termasuk yang kaget kursi mendikbud diserahkan kepada Pak Nadiem Makarim (NM), mantan CEO Gojek. Apalagi setelah itu bersliweran di WAG orang mempertanyakan agama Pak NM dg memperlihatkan upacara pernikahannya di gereja dan pembaptisan anaknya. Duh, bagaimana masa depan pendidikan aqidah dan akhlak anak2 kita nih?

Namun, saya kemudian ingat, bahwa Pak NM kan belum bekerja. Artinya, nggak fair kita menilai dan men-judge beliau ini dan itu sebelum dia berbuat. Rasa khawatir tentu ada, tapi lebih baik kita memaknainya secara positif. Apalagi kita sedang menghadapi sistem pendidikan kita yang carut marut. Mungkin memang perlu “orang luar” yang out of the box thinking untuk menyelesaikan masalah-masalah pendidikan kita.

Pak NM sudah dipilih, tidak usah banyak debat. Yang harus kita lakukan adalah memberikan masukan pada beliau tentang problem mendasar apa yang dihadapi pendidikan kita. Tentu, banyak masalah teknis dalam dunia pendidikan apalagi jika dikaitkan dengan mutu dan kompetensi lulusan kita. Tapi ada yang lebih mendasar dan filosofis yaitu praktek pendidikan kita telah keluar (minimal tidak sejalan) dari tujuan pendidikan yang telah digariskan oleh Pancasila, UUD 1945 dan UU Sisdiknas.

Menurut Prof. Ahmad Tafsir dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, dasar pendidikan bangsa Indonesia adalah Pancasila dg intinya adalah sila Ketuhanan Yang Maha Esa (YME). Sila pertama ini selain sebagai salah satu sila, juga sbg inti dari Pancasila. Sila Ketuhanan ini adalah core of the core dari Pancasila, spt terlihat dlm gambar perisai di lambang burung Garuda, bintang sbg lambang sila pertama berada di tengah. Jadi dasar pendidikan adalah ketuhanan. Dengan demikian, mnrt Prof Tafsir, pendidikan kita tidak boleh sekuler apalagi atheis (2008:53).

Tujuan pendidikan menurut UUD 1945 pasal 31 ayat 3 berbunyi “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dg undang-undang.” Sementara menurut UU No. 20/2003 ttg Sisdiknas pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yg beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kalau tujuan pendidikan nasional yg utama adalah keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME dilanjutkan dg membentuk akhlak mulia pada peserta didik, maka kita bisa tahu bagaimana praktek pendidikan sekarang. Pendidikan kita lebih mengarah pada aspek kognitif. Lihat saja apa yg di-UN-kan. Matematika, IPA, IPS, bahasa. Sementara ketaqwaan dan akhlak siswa diserahkan saja ke guru agama. Pdhl semua mata pelajaran harus bertujuan meningkatkan ketakwaan dan membentuk akhlak mulia, tidak cuma pelajaran agama dan PKN.

Maka tugas Pak NM sebagai Mendikbud yg utama adalah mengembalikan praktek dan orientasi pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan yang diamanahkan Pancasila, UUD 1945 dan UU Sisdiknas. Jangan hanya fokus pada membentukan “tukang” untuk bisa diterima sebagai tenaga kerja di masyarakat. Link and match bukan antara dunia pendidikan dg dunia kerja, tapi proses pendidikan menghasilkan orang2 yg baik (to be a goodman) di masyarakat. Orang baik yang akuntan, orang baik yang dokter, orang baik yang insinyur, orang baik yg jago IT, dsb. Inilah masukan yg harus diperhatikan Pak NM dalam menangani kemendikbud, jika negara ini ingin maju.

Soal kompetensi, kreativitas, teknologi dan sebagainya, bisa sambil jalan. Apabila bangsa kita tidak menguasai teknologi, kita bisa beli. Apalagi Indonesia negeri kaya raya. Tapi kalau iman dan akhlak mulia tidak punya, mau beli di mana?

Ada yang tanya (dengan nada nyinyir), ada nggak negara yang pendidikannya maju menerapkan soal keimanan dan akhlak mulia dalam pendidikannya? Mas, tiap bangsa punya dasar pendidikan masin-masing, kita pun punya dasar sendiri. Kalau kita punya dasar tapi prakteknya ikut dasar orang lain, sampai kapanpun tidak akan akan maju. Tidak bisa kemajuan bangsa lain kita copy paste begitu saja. Kata Seyyed Hossein Nasr, “No science has ever been integrated into any civilization without some of it also being rejected. It’s like the body. If we only ate and the body did not reject anything we would die in a few days. Some of the food has to be absorbed, some of the food has to be rejected.”

Semoga masukan kecil ini bisa sampai ke meja Pak NM. Kita akan dukung penuh kebijakan beliau jika sesuai dg tujuan pendidikan tersebut. Semoga Pak NM bisa mengembalikan orientasi pendidikan kita sesuai amanah di atas. Dan harapan itu masih ada. []

Penulis: DR. Budi Handrianto (Sekretaris Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close