Opini

Apa Bukti Kita Bersyukur?


Oleh Aswar Hasan

“ Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur. ”(QS. Saba: 13).
Memang, seperti Firman Tuhan tersebut, banyak sekali manusia yang tidak mau atau sulit bersyukur pada Allah atas nikmat yang dia peroleh, termasuk nikmat terhindar dari musibah.
Dari Nu’man bin Basyir, Nabi SAW bersabda; “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad).
Hadits tersebut menggambarkan, bahwa bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rizki yang banyak, rizki yang sedikit dan tetap terus Allah beri, sulit untuk dia syukuri. Bagaimana mungkin bersyukur? Menyadari nikmat yang sudah ada saja, meskipun sedikit, tidak juga terbetik di hati.
Syeikh Nawawi al Bantani yang pernah jadi Imam Masjidil Haram, berkata: “Kufur nikmat adalah hina, maksudnya tidak mensyukuri nikmat merupakan tanda kerendahan diri seseorang.”
Kufur nikmat merupakan perbuatan tercela dan nista. Secara moral, pengingkaran atas kebaikan orang lain, terlebih kepada Tuhan, merupakan perbuatan buruk secara etis, dan keimanan. Kufur nikmat hanya dilakukan oleh orang yang memiliki standar moral yang rendah. Olehnya itu, Nabi menasehati; “Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur” (HR. Ibnu Majah). Wara’ adalah sikap hati- hati, meninggalkan perkara subhat dan yang tidak memberi manfaat, sementara qanaah adalah merasa cukup atas pemberian Tuhan.
Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang bersyukur dan sabar, yaitu bila dia melihat kepada yang lebih tinggi (dalam beragama) lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan.” (HR. Tirmidzi).
Dalam Al Qur’an Tuhan sudah menggariskan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan nikmat Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sebenarnya azab-Ku sangat pedih” ( QS. Ibrahim.14: 7).
Lalu bagaimana seharusnya kita bersyukur? Cara kita bersyukur adalah dengan semakin menaati Allah SWT sebagai pemberi nikmat. Kata Sayyidina Abbas RA; “ Syukur itu adalah taat dengan segenap jiwa raga kita Kepada Tuhan, baik di kala menyendiri maupun terang-terangan, baik lisan maupun dalam hati. Syukur itu dilakukan secara zahir dan batin, kemudian menjauhi maksiat baik secara zahir maupun batin
Syaikh Abu Bakr Al Jazairi berkata, “ Wajib bagi kita untuk mensyukuri nikmat. Bentuk syukur yang paling utama adalah melaksanakan dan memperbanyak shalat. Nah, sudah kah kita bersyukur dengan sepandai-pandainya bersyukur? Wallahu A’lam Bishawwabe. *) Telah dimuat di Kolom Secangkir Teh Harian Fajar, 21/2/2021.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Matikan Ad Bloker untuk bisa membaca berita