Opini

Agar Pandemi Jadi Berkah

Oleh: Yons Achmad
(Penulis. Tinggal di Depok

Judul Buku: Musibah Membawa Berkah
Penulis: Arsal Sjah
Penerbit: Idea Publishing
Tebal: 98 Halaman
Cetakan: Pertama, Februari 2021

Luwuk.today, Suatu ketika, generasi awal Islam pernah diserang ketakutan yang begitu dahsyat beberapa saat menjelang pertempuran Badar pecah. Rasa takut pada kematian yang terlihat di depan mata. Saat seribu personil pasukan Quraisy di bawah komando Abu Jahal yang bersenjata lengkap siap melumat mereka.

Ketakutan itulah yang menyebabkan hilangnya keberanian kaum muslimin waktu itu. Lalu Allah SWT menenteramkan hati mereka dengan mendatangkan bala bantuan seribu malaikat yang bergabung dalam barisan mereka.

“Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu diperkenankanNya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut (Al-Anfal ayat 9).

Akan tetapi, seribu pasukan malaikat yang didatangkan pun bukanlah menjadi penentu kemenangan dan kesuksesan melainkan hanya menjadi penentram hati bagi kaum muslimin yang saat itu dipenuhi dengan kegelisahan dan rasa takut karena membayangkan apa yang akan terjadi di Perang Badar nanti.

Itulah sekelumit narasi awal yang dipersembahkan penulis buku ini, seorang intelektual muslim lulusan sastra UI sekaligus anggota Korps Mubaligh IKADI Kota Depok. Sebuah catatan kecil mengapa ketenteraman hati menjadi penting? Ini disebabkan karena ketenteraman hati menjadi penentu, apakah keberanian atau rasa takut yang akan mendominasi diri kita.

Oleh karenanya, menyikapi musibah harus dengan sikap proporsional (sebanding dan sepadan), tidak berlebihan tapi juga tidak meremehkan. Jika tidak proporsional maka akan jatuh pada salah satu diantara dua keburukan: Keputusasaan yang menghancurkan atau kesombongan yang mencelakakan.

Di era “Musibah” pandemi Covid-19 ini, sepertinya apa yang disampaikan penulis buku ini sangat relevan. Sebuah sikap dari orang beriman lalu beristiqomah dengan keimanannya, maka tidak ada kekhawatiran pada diri mereka dalam menghadapi masa depan dan tiada pula berduka cita (bersedih) terhadap masa lalu.

Sebuah sikap yang diajarkan di dalam Al-Quran “Laa takhofu wa laa tahzanu” (Tidak khawatir dan tidak bersedih). Aplikasi sikap yang mewujud dalam tiga hal (1) Tidak cemas atas apa yang belum terjadi di masa depan, (2) Tidak sedih atas apa yang terlepas darinya di masa lalu, (3) Tidak marah dan emosi atas apa yang tidak disukainya namun terjadi di masa kini.

Itu sebabnya, apapun yang kita alami sekarang. “Musibah” apapun seharusnya menjadi sarana menumbuhkan keberanian dan menguatkan kita. Ibarat besi yang dimasukkan ke dalam bara api, lalu ditempa dengan palu besi dan beralaskan besi juga.
Memasuki bara api adalah simbol keberanian. Jika tidak pernah dimasukkan bara api maka seonggok besi takkan bisa diubah menjadi pedang. Jika tak pernah ditempa dengan palu besi lalu di asah maka takkan pernah menjadi sebilah pedang yang indah, kuat dan tajam. Bermula dari keberanian lalu tumbuh kekuatan dan berakhir dengan keindahan.

Itulah beberapa untaian sikap terbaik bagaimana kita memaknai pandemi Covid-19 ini. Sebuah sikap yang mencerminkan keimanan seorang muslim. Buku ini memang tak terlalu tebal. Tapi, ada kekuatan ruhiyah yang meluah dari penulisnya. Sehingga melahirkan sebuah narasi elok tentang bagaimana seorang muslim mesti menghadapi hidup, menghadapi kehidupan. Agar, apapun yang terjadi, bahkan “Musibah” sekalipun berakhir menjadi berkah dan cerita yang indah. Sebuah buku yang bisa mengobati dahaga intelektual dan ruhiyah (batin) kita. []

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button